10 May 2007

Printer vs Lithografi Offset

Ditulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan bagaimana komputer dan aplikaasi editing bisa menggantikan posisi lem dan gunting, sekarang saya akan coba untuk membahas bagaimana printer sangat berpotensi menggantikan mesin cetak produksi seperti ofset sekalipun.

Sebelum membahasnya, berikut ini adalah perbedaan mendasar antara mesin ofset lithografi dengan printer:

  • Pertama, Cara pemindahan gambar ke kertas. Pada mesin offset, setelah pelat dilapisi dengan tinta, pertama-tama tinta tersebut dipindahkan ke silinder kain karet atau biasa disebut blanket, dan dari blanket inilah tinta akan dipindahkan ke bahan cetak (kertas). Sedangkan pada printer, umumnya tinta akan langsung disemprotkan dari printhead ke kertas.

  • Kedua, Tinta yang digunakan. Mesin offset menggunakan tinta berbasis minyak yang berbahan pigment, sedangkan printer menggunakan tinta berbahan dyes.
  • Ketiga, Jenis nada yang digunakan. Printer menggunakan continious tone atau nada penuh yang mendasarkan diri pada gelap terangnya piksel, sedangkan mesin offset tidak menggunakan continious tone, karena pelat dan kertas yang digunakan tidak mampu mengwujudkan nada penuh ini. Maka offset menggunakan halftone atau nada lengkap yang mendasarkan diri pada titik-titik (dot). Titik yang besar atau yang berjumlah banyak akan menampilkan bagian gambar yang gelap, sebaliknya titik yang kecil dan jarang mewakili bagian terang pada cetakan.

  • Keempat, pola cetak yang dihasilkan. Printer akan menghasilkan pola cetak yang sangat rapat/saling berhimpitan, sedangkan mesin offset akan menghasilkan pola cetak berupa titik-titik yang membentuk pola bunga, hal ini bisa dilihat dengan cara melihat hasil cetakan pada mesin offset menggunakan kaca pembesar. Pola bunga ini disebabkan perbedaan sudut kemiringan pada masing masing film yang digunakan. Umumnya sudut sudut ini adalah 105 derajat untuk film Cyan, 90 derajat untuk Yellow, 75 derajat untuk Magenta, dan 45 derajat untuk Black. Bila sudut sudut ini berubah karena kecepatan mesin cetak, akan terjadi misregistration pada cetakan yang dapat menyebabkan terdapatnya "celah" antar warna, atau disebut moire.

Hingga saat ini mesin offset dengan segala variant-nya masih mendominasi percetakan berskala besar, sedangkan printer hanya digunakan untuk cetak terbatas. Printer memiliki banyak kelebihan dibandingkan mesin offset, diantaranya:

  • Tidak memerlukan pelat cetak, Maka proses kan lebih cepat karena tidak perlu menyiapkan pelat dan film.

  • Mampu menampilkan continious tone, Sehingga tidak memerlukan proses transfer halftone ke continious tone.

  • Harga lebih murah, Printer kini sudah bisa ditebusdengan harga ratusan ribu rupiah, sedangkan mesin offset masih berharga ratusan juta hingga milyaran rupiah.

  • Tidak memerlukan banyak tenaga kerja, Dengan printer, para disainer dan layouter bisa langsung mencetak hasil desainnya tanpa bantuan operator lagi.

Namun hingga kini masalah printer yang membuatnya kalah dari mesin offset adalah kecepatan cetak. Berapa kecepatan printer di rumah anda? coba bandingkan dengan mesin ofset speedmaster yang berkecepatan 12.000 lembar/jam atau roland yang mampu berakselerasi hingga 32.000 lembar/"menit". Dengan ketimpangan ini memang sepertinya printer masih jauh dibawah offset, namun sekedar informasi, kini MFP (multi function printer) terbaru milik HP, seri CM8060/CM8050, sudah mampu mencapai kecepatan 71 ppm atau setara dengan 4260 lembar/jam, lumayanlah kalau untuk menandingi GTO.

PS : Artikel ini saya dapatkan dari media lain, dan saya modifikasi sesuai apa yang saya tau. Karena saya anak produksi, maaf bila tulisan ini salah, silahkan berkomentar untuk membenarkannya.

No comments:

Post a Comment